CERITA HOROR

Cerita tentang mistis dari kisah nyata yang akan membuat para pembaca mengetahui pengalaman menakutkan yang di angkat menjadi film.

Advertisement

Bisikan Tanah Merah – Rahasia di Balik Kutukan Desa

Bisikan Tanah Merah – Rahasia di Balik Kutukan Desa

Hujan deras mengguyur Desa Basu sejak sore, memukul atap seng rumah-rumah dengan irama yang tak beraturan. Jalan tanah yang biasanya berdebu kini berubah menjadi kubangan lumpur, membuat langkah kaki terasa berat. Angin malam menyusup lewat celah dinding, membawa aroma tanah basah bercampur dedaunan busuk dari hutan di pinggir desa.

Di ujung desa, tepat di perbatasan kebun karet tua, ada sebidang tanah yang berbeda dari yang lain. Warga menyebutnya Tanah Merah. Bukan hanya warnanya yang gelap, tapi juga sejarah kelam yang melekat padanya.

Konon, pada masa penjajahan, tempat itu adalah lokasi eksekusi massal para pemberontak. Ratusan orang di bantai tanpa ampun, lalu dikubur dalam satu lubang besar. Darah yang membasahi tanah diyakini membuat warnanya menjadi merah pekat.

Sejak itu, siapa pun yang mencoba mengolah lahan tersebut akan mendapat nasib buruk—ada yang jatuh sakit, ada yang hilang tanpa jejak. Penduduk desa menjaga jarak. Tidak ada yang berani memotong rumput di sana, apalagi mencangkul tanahnya.

Hingga pada suatu hari, seorang pemuda bernama Raka pulang dari perantauan… dan memutuskan untuk menguji cerita itu.

Kepulangan Raka

Raka pulang ke Desa Basu setelah tiga tahun mencoba peruntungan di kota. Kehidupan di sana tidak seperti yang ia bayangkan. Usahanya bangkrut, uang tabungannya habis, dan ia kembali ke desa dengan rasa malu.

Namun, sifat keras kepalanya tetap sama. Di warung kopi Pak Dirman, ia mendengar cerita bahwa Tanah Merah tak bertuan.

Raka: “Pak Dirman, tanah itu kan luas. Kalau digarap, bisa buat kebun sayur. Kenapa dibiarkan?”
Pak Dirman: “Karena tanah itu nggak mau digarap, Nak.”
Raka: tertawa “Tanah nggak mau digarap? Mitos begitu yang bikin desa ini nggak maju-maju.”

Orang-orang di warung menatapnya. Beberapa menggeleng, beberapa hanya memandang kosong. Pak Dirman mencondongkan tubuhnya.

Pak Dirman: “Bukan mitos. Banyak yang sudah coba. Nggak ada yang balik dengan selamat.”

Raka hanya tersenyum sinis. Ia pikir itu sekadar cerita untuk menakut-nakuti. Dalam hatinya, ia sudah memutuskan: besok ia akan pergi ke Tanah Merah.

Langkah Pertama

Pagi itu cerah. Raka membawa cangkul, parang, dan bekal nasi bungkus. Jalan menuju Tanah Merah sunyi, hanya suara dedaunan bergesekan diterpa angin.

Saat sampai, ia berdiri di tepi tanah itu. Memang berbeda. Tanahnya lebih gelap, lembab meski matahari terik. Rumput-rumput merunduk, seperti tidak berani tumbuh tegak. Tidak ada burung atau serangga yang terdengar.

Dengan percaya diri, ia mencangkul. Suara besi menghantam tanah menggema. Sekali… dua kali… tiga kali… dan pada pukulan keempat, ia mendengar bisikan.

“Pulang…”

Raka berhenti. Ia menoleh ke kiri dan kanan, tapi tidak ada siapa-siapa. Ia kembali mencangkul. Bisikan itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

“Pulang… sekarang…”

Ia menelan ludah. “Paling cuma angin,” pikirnya. Tapi saat menggali lebih dalam, cangkulnya mengenai benda keras. Awalnya ia mengira batu. Tapi ketika tanah disingkirkan, ia melihatnya—tengkorak manusia, utuh, dengan retakan besar di bagian belakang.

Tengkorak dan Darah

Raka tertegun. Tangannya bergetar. Tengkorak itu menatap kosong ke arah langit. Dari tanah di sekitarnya, aroma anyir menyeruak, menusuk hidung.

Ia ingin berhenti, tapi rasa ingin tahu mengalahkan rasa takut. Ia menggali lagi. Tak lama, ia menemukan tulang belulang lain, seperti sisa-sisa beberapa orang yang dikubur bersama.

Bisikan itu kini terdengar dari segala arah, tidak hanya satu suara, tapi puluhan—seperti banyak orang berbicara bersamaan.

“Hentikan…”
“Tutup kembali…”
“Jangan ganggu kami…”

Tanah di sekelilingnya mulai basah oleh cairan merah gelap. Itu bukan lumpur… itu darah. Raka mundur, tapi tanah seperti berdenyut, seolah hidup.

Malam Pertama

Malam itu, Raka sulit tidur. Di luar, hujan turun rintik-rintik. Tapi di sela suara hujan, ia mendengar bisikan itu lagi, kali ini dari dalam kamarnya.

“Kau menggali terlalu dalam…”

Ia menoleh ke sudut kamar. Ada sosok tinggi, kurus, wajahnya hanya tengkorak, rahangnya terbuka mengeluarkan darah hitam. Matanya kosong, namun tatapannya menusuk.

Raka ingin berteriak, tapi suaranya tak keluar. Sosok itu mendekat perlahan, lalu menghilang begitu saja… meninggalkan bau tanah basah yang menyengat.

Sejarah Tanah Merah

Keesokan harinya, Raka menemui Pak Dirman. Wajahnya pucat.

Raka: “Pak… ceritakan semua tentang Tanah Merah.”
Pak Dirman: menghela napas “Dulu, itu tempat eksekusi. Para pejuang desa dibantai di sana, puluhan orang sekaligus. Mereka dikubur tanpa doa. Darahnya meresap ke tanah. Arwah seperti itu… tidak pernah tidur.”

Raka mendengarkan dalam diam. Tapi di hatinya, ia masih yakin semua itu hanya sugesti. Ia memutuskan untuk kembali ke sana.

Kembali ke Tanah

Hari berikutnya, Raka kembali membawa cangkul. Kali ini, ia menggali lebih dalam. Ia menemukan lebih banyak tulang. Setiap kali sebuah tulang terangkat, suara jeritan samar terdengar di telinganya.

“Kembalikan…”
“Biarkan kami…”

Langit mendadak gelap meski belum sore. Angin kencang bertiup, membawa aroma darah segar. Raka gemetar, tapi tetap bertahan.

Gangguan Semakin Nyata

Malam ketiga, langkah kaki terdengar di rumahnya. Barang-barang bergeser sendiri. Bayangan sosok tanpa kepala muncul di cermin.

Saat ia mencoba tidur, bisikan itu semakin jelas.

“Kau harus kembali… sekarang…”

Tidur Raka makin jarang. Tubuhnya mulai lemah. Tapi entah kenapa, ia merasa ditarik kembali ke Tanah Merah.

Kesaksian Warga

Beberapa warga mulai curiga. Pak Dirman melihat Raka berjalan ke Tanah Merah setiap pagi. Malamnya, mereka mendengar suara seperti orang menggali dari arah tanah itu.

Seorang pemuda bernama Wawan mencoba mengikuti Raka. Namun saat mendekat, ia melihat bayangan hitam tinggi berdiri di belakang Raka… dan bayangan itu memegang cangkul bersimbah darah.

Wawan lari ketakutan, tidak pernah kembali ke sana.

Malam Ketujuh

Malam ketujuh adalah puncaknya. Angin menerpa rumah Raka. Pintu terbuka sendiri. Dari luar, bisikan itu berubah menjadi teriakan:

“KEMBALIKAN TANAH KAMI!”

Tanah di halaman rumahnya retak, dan dari celah itu, tangan-tangan tulang keluar, meraih kaki Raka. Ia berusaha melepaskan diri, tapi tarikan itu terlalu kuat.

Dengan teriakan terakhir, tubuhnya terseret masuk ke dalam tanah… dan lubang itu menutup kembali.

Hilangnya Raka

Pagi harinya, warga menemukan rumah Raka kosong. Di tengah ruang tamu ada lubang besar penuh tanah merah basah. Di atasnya, hanya ada cangkul patah dan baju terakhir yang di kenakan Raka.

Sejak hari itu, Tanah Merah terlihat bertambah luas.

Rahasia Terakhir

Pak Dirman akhirnya mengaku bahwa dulu ia pernah melihat eksekusi di Tanah Merah. Ia masih anak-anak saat itu, tapi ia ingat jeritan para korban yang meminta tanah itu tidak di ganggu. Sejak hari Raka hilang, bisikan itu kembali terdengar setiap malam hujan.

Tanda Kutukan Belum Berakhir

Beberapa bulan kemudian, seorang pendatang baru mencoba membeli tanah itu. Warga memperingatkannya, tapi ia bersikeras. Malam setelah ia mulai membersihkan lahan, ia juga hilang… dan tanah itu kembali meluas.

Hingga kini, setiap hujan turun di Desa Basu, warga bersumpah mendengar bisikan dari arah Tanah Merah.

“Masih lapar…”

Dan setiap kali tanah itu meluas, semua orang tahu… ia baru saja mendapat korban baru.