Namaku Rani, mahasiswi semester tiga jurusan Sastra di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Saat semester awal, aku memutuskan untuk tinggal di kos dekat kampus, tapi biaya hidup memaksaku untuk mencari tempat tinggal yang lebih murah. Temanku, Lilis, menyarankan sebuah asrama lama milik yayasan tua bernama Kertanegara. Biayanya murah, tapi konon katanya… asrama itu angker.
“Ah, cuma mitos,” pikirku waktu itu. Tapi aku salah besar.
Malam Pertama
Asrama Kertanegara adalah bangunan tua dua lantai, cat temboknya sudah memudar, dan di beberapa bagian terlihat lumut menempel. Aku menempati kamar nomor 8 di lantai dua. Saat masuk pertama kali, bau lembap langsung menusuk hidung. Lilis sudah lebih dulu tinggal di kamar 5.
Malam itu, saat baru beres-beres, aku mendengar suara langkah kaki berat dari lorong, padahal aku yakin hanya aku dan Lilis yang tinggal di lantai dua saat itu.
“Tok… tok… tok…”
Langkahnya lambat, teratur, dan berat. Saat kubuka pintu untuk melihat, lorong itu kosong.
Kamar 7 yang Selalu Tertutup
Di sebelah kamarku adalah kamar nomor 7. Kamar itu selalu tertutup rapat, gemboknya berkarat, dan tak pernah dibuka. Lilis bilang dulu ada seorang penghuni di situ, tapi entah kenapa, tiba-tiba hilang tanpa jejak.
“Namanya Nita. Dia pendiam, dan sering kelihatan bicara sendiri di malam hari,” ujar Lilis.
Aku merasa aneh setiap lewat depan kamar itu. Seolah-olah… ada mata yang mengintip dari balik lubang kunci.
Teror di Tengah Malam
Beberapa hari kemudian, aku mulai mengalami kejadian yang tidak bisa dijelaskan.
- Suara Ketukan dari Dalam Lemari Aku pernah terbangun pukul 2:17 dini hari karena suara ketukan dari dalam lemariku. Saat kubuka, tak ada apa-apa… hanya pakaian yang tergantung. Tapi aroma bunga kamboja sangat kuat menguar dari dalamnya.
- Bayangan di Cermin Saat sedang menyisir rambut di depan cermin, aku melihat sosok perempuan berambut panjang di belakangku. Tapi saat menoleh, dia tak ada.
- Catatan Misterius Suatu pagi, aku menemukan catatan di meja belajarku: “Jangan masuk kamar 7. Dia masih di sana.”
Tulisan itu seperti ditulis dengan tangan gemetar. Aku langsung menggigil.
Misteri Lorong Gelap
Suatu malam, listrik padam tiba-tiba. Aku dan Lilis mencoba mencari senter. Saat kami menyusuri lorong dengan cahaya ponsel, kami melihat pintu kamar 7… terbuka sedikit.
“Kamu lihat itu juga?” bisik Lilis. Aku mengangguk.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Perlahan, kami mendekat dan mendorong pintu itu. Ruangan itu gelap dan kosong, tapi udara di dalamnya terasa sangat dingin… menusuk tulang.
Di dinding, tertulis dengan darah:
“AKU BELUM SELESAI DENGAN DUNIA INI.”
Kisah Penjaga Asrama
Besok paginya, aku memberanikan diri bertanya pada Pak Udin, penjaga asrama.
“Pak… apa benar dulu ada yang hilang di kamar 7?”
Wajah Pak Udin langsung pucat. Ia menatapku lama sebelum menjawab:
“Nita… dia tidak hilang, Nak. Dia… bunuh diri di kamar itu. Gantung diri dengan tirai jendela. Dulu, sebelum kalian masuk, kamar itu pernah dibuka lagi oleh anak baru, dan sejak itu… kejadian aneh mulai muncul.”
Menurutnya, arwah Nita belum tenang. Ada yang membuatnya tidak bisa pergi.
Kutukan Cermin Tua
Kami menyelidiki isi kamar 7 lebih jauh dan menemukan cermin tua besar di pojokan. Cermin itu tertutup kain putih, penuh debu. Ketika kain itu tersingkap karena angin, aku dan Lilis melihat… pantulan kami tidak ada di dalamnya.
Justru, kami melihat Nita berdiri di belakang kami, memandang dengan mata kosong dan leher terkulai.
Kami menjerit dan lari keluar kamar. Sejak saat itu, aku selalu mimpi buruk—Nita berdiri di ujung tempat tidurku, setiap malam.
Pengusiran yang Gagal
Kami meminta bantuan paranormal setempat. Ia datang membawa dupa, air suci, dan kitab doa.
Saat proses pembersihan dilakukan, mendadak cermin tua itu retak dan suara jeritan perempuan menggema di seluruh asrama.
“Kalian tidak bisa mengusirku! Ini rumahku!”
Jeritannya menusuk telinga.
Paranormal itu pingsan. Ritual gagal.
Lilis Menghilang
Beberapa malam kemudian, Lilis menghilang. Kamarnya kosong, tapi kasurnya penuh bercak darah. Tak ada jejak keberadaan dirinya.
Di dinding kamarnya, tertulis dengan darah:
“Temanmu sudah jadi milikku. Siapa selanjutnya?”
Aku nyaris gila. Aku menelepon orang tuaku dan minta dijemput keesokan paginya.
Lorong Tak Bernama

Malam terakhirku di asrama, aku bermimpi berjalan di lorong gelap yang tak berujung. Dindingnya berlumur darah, dan dari setiap pintu keluar tangan-tangan yang mencoba menarikku masuk.
Di ujung lorong, Nita berdiri. Ia berkata,
“Aku butuh teman… jangan pergi.”
Aku terbangun dengan keringat dingin. Di depan pintuku, ada boneka kecil dengan rambut hitam dan mata kosong.
Pelarian
Pagi itu, aku pergi tanpa menoleh ke belakang. Aku tinggalkan semua barangku, bahkan buku kuliah. Yang penting aku selamat.
Asrama Kertanegara akhirnya ditutup tiga bulan kemudian, setelah ada mahasiswa lain yang ditemukan tewas gantung diri di kamar mandi.
Epilog
Kini, dua tahun kemudian, aku masih sering dihantui oleh bayangan Nita. Setiap kali bercermin, kadang aku melihat sekilas sosoknya berdiri di belakangku.
Kadang-kadang, aku dengar ketukan dari lemari di kamarku sekarang, walau aku sudah pindah jauh dari asrama itu.
Mungkin… Nita belum selesai denganku.
Asrama Kertanegara kini tinggal puing-puing. Tapi kisah tentang Nita dan lorong tak bernama itu masih menjadi legenda kampus. Banyak yang bilang, jika kamu bermimpi tentang lorong panjang dengan banyak pintu, jangan buka salah satu pun. Karena bisa jadi… itu lorong milik Nita.
Dan jika kamu membuka pintu nomor 7…
Maka kamu tidak akan pernah bisa kembali.